Takelot II: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi ''''Takelot II''' (juga dikenal sebagai '''Hedjkheperre Setepenre Takelot''') adalah Fir'aun keenam dari Dinasti Dua Puluh Dua yang memerintah pada masa Periode Ketiga Antara (sekitar tahun 842–818 SM). Masa pemerintahannya selama lebih dari dua dekade menjadi saksi pecahnya perang saudara kronis di wilayah Mesir Hulu yang secara permanen membelah otoritas hukum ketatanegaraan kekaisaran. Perang saudara Thebes, Pemberontakan Pendeta Agung, dan Teks Babad Os...' Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
Mippedia Neural Engine V12: NeuralRelated Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
[[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | [[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | ||
[[Kategori:Penguasa abad ke-9 SM]] | [[Kategori:Penguasa abad ke-9 SM]] | ||
{{#related: Bumi}} | |||
{{#related: Fir'aun}} | |||
{{#related: Sungai Nil}} | |||
Revisi terkini sejak 25 Mei 2026 21.17
Takelot II (juga dikenal sebagai Hedjkheperre Setepenre Takelot) adalah Fir'aun keenam dari Dinasti Dua Puluh Dua yang memerintah pada masa Periode Ketiga Antara (sekitar tahun 842–818 SM). Masa pemerintahannya selama lebih dari dua dekade menjadi saksi pecahnya perang saudara kronis di wilayah Mesir Hulu yang secara permanen membelah otoritas hukum ketatanegaraan kekaisaran.
Perang saudara Thebes, Pemberontakan Pendeta Agung, dan Teks Babad Osorkon meliputi:
- Krisis Suksesi & Perang Saudara: Stabilitas domestik hancur ketika Takelot II menunjuk putra kandungnya, Pangeran Osorkon B, sebagai Pendeta Agung Amun di Thebes. Penunjukan taktis ini ditolak keras oleh faksi oligarki militer lokal di selatan, memicu perang saudara berdarah sepanjang Sungai Nil yang berlangsung selama belasan tahun.
- Dokumentasi Monumen Babad Pangeran Osorkon: Catatan riil mengenai konflik militeristik ini terpahat secara mekanis pada teks Babad Pangeran Osorkon (Chronicle of Prince Osorkon) di Karnak. Teks tersebut memaparkan taktik perang harian, pembakaran para pemberontak, hingga terjadinya fenomena gerhana bulan yang diinterpretasikan para juru tulis sebagai pertanda buruk bagi Bumi.
- Fajar Berdirinya Dinasti Ke-23: Akibat kelumpuhan kontrol terpusat, seorang raja saingan bernama Pedubast I memanfaatkan situasi dengan menyatakan dirinya sebagai Firaun independen (Dinasti ke-23) di Leontopolis, memecah administrasi perpajakan negara menjadi dua poros hukum yang saling bermusuhan.
Melalui upaya pemadaman pemberontakan yang menguras logistik negara, Takelot II berjuang mempertahankan sisa-sisa legitimasi Dinasti ke-22 di tengah hantaman badai desentralisasi.